Breaking

Anak Indonesia Rentan Gizi, Program JAPFA 18 Tahun Jangkau 10,1 Persen Siswa

RE
Selasa, 01 September 2026
Anak Indonesia Rentan Gizi, Program JAPFA 18 Tahun Jangkau 10,1 Persen Siswa
Program JAPFA for Kids yang berjalan 18 tahun menjangkau 10,1 persen siswa dengan kondisi gizi kurang di tujuh lokasi pada 2024.

NAVIGASI.CO.ID — Pemenuhan gizi anak masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Di tengah gencarnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, data dari lapangan menunjukkan masih adanya kantong-kantong malagizi yang perlu penanganan serius.

Salah satu contoh intervensi yang berjalan cukup lama dilakukan oleh PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk melalui program JAPFA for Kids yang telah berlangsung selama 18 tahun. Program ini menyasar pemenuhan asupan protein hewani dan edukasi pola hidup sehat bagi anak-anak usia sekolah.

Angka 10,1 Persen dan Enam Bulan Asupan Telur Harian

Berdasarkan pendataan internal yang dihimpun JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024, sekitar 10,1 persen siswa masih tercatat mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Kondisi ini menegaskan bahwa isu malagizi masih menjadi tantangan nyata yang memerlukan pendekatan kolaboratif.

"Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA," ujar Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA.

Lebih lanjut, program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala untuk memastikan dampaknya terukur secara konsisten.

Sisi Gelap: Rasa Malu yang Menghambat Penanganan Stunting

Salah satu kendala yang jarang dibicarakan dalam penanganan gizi buruk adalah faktor sosial budaya. Sejumlah orang tua dari anak penderita stunting atau gizi buruk kerap memilih bungkam dan enggan melaporkan kondisi anaknya ke petugas kesehatan.

"Banyak juga orang tua dari anak-anak penderita stunting atau penderita gizi buruk bungkam dan tak mau menginformasikannya ke petugas kesehatan, karena dianggap aib keluarga," tutur perwakilan akademisi yang terlibat dalam kolaborasi program ini.

Menurutnya, tugas bersama saat ini adalah mengubah pola pikir tersebut. Masa depan anak yang panjang harus menjadi alasan bagi orang tua untuk proaktif dan jujur dalam memberikan keterangan soal kondisi kesehatan buah hatinya.

Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Indonesia Emas 2045

Peningkatan kualitas gizi anak tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. JAPFA menilai sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan tenaga pendidik menjadi kunci untuk menurunkan angka stunting secara signifikan.

Kampus dengan program studi kesehatan seperti gizi, keperawatan, dan kebidanan dinilai sangat terbuka untuk diajak berkolaborasi dalam penyediaan data serta edukasi kepada masyarakat. "Perusahaan sangat terbuka menerima masukan dari dunia usaha, terutama dalam hal data dan informasi terkait anak kurang gizi," tambahnya.

Perjalanan panjang 18 tahun dukungan terhadap tumbuh kembang anak ini diharapkan menjadi pondasi menuju Indonesia Emas 2045. Namun, keberhasilan program hanya akan terwujud jika semua elemen masyarakat mau menanggalkan kepentingan sektoral dan bahu-membahu memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas.

Bagi orang tua, kebutuhan gizi anak sebenarnya bisa dipenuhi dengan berbagai cara. Salah satu praktik yang diterapkan orang tua adalah memilih makanan beku seperti bakso, nugget, atau ayam beku siap masak untuk memenuhi kebutuhan protein saat kondisi mendesak, sembari tetap melengkapi dengan sumber vitamin dan mineral dari sayur serta buah harian.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua