Breaking

Rupiah Diprediksi Melemah ke Kisaran Rp 18.100 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

SI
Rabu, 05 Agustus 2026
Rupiah Diprediksi Melemah ke Kisaran Rp 18.100 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Analis ICDX Muhammad Amru Syifa menyampaikan proyeksi pelemahan rupiah di Jakarta, Rabu (13/8/2026).

JAKARTA — Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Selain antisipasi data ketenagakerjaan AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Analis ICDX Muhammad Amru Syifa mengatakan, pasar masih menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada akhir pekan ini. Data tersebut akan menjadi petunjuk utama bagi pasar untuk memperkirakan langkah Federal Reserve selanjutnya terkait suku bunga.

"Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Fundamental Domestik Masih Menahan Laju Pelemahan

Meski tekanan eksternal mendominasi, ruang pelemahan rupiah dinilai relatif terbatas. Amru menyebut, inflasi domestik yang tetap terkendali dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi penopang utama nilai tukar. Komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas juga turut membatasi aksi jual terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, pasar mencermati rilis Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 yang menunjukkan defisit lebih kecil dari perkiraan. Inflasi Juli yang masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia turut memberikan sentimen positif bagi fundamental ekonomi nasional.

PDB Kuartal II Jadi Penentu Arah Rupiah Hari Ini

Perhatian investor hari ini akan tertuju pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk kuartal II-2026. Angka pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi pasar berpotensi memberikan dorongan positif bagi rupiah.

"Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid," kata Amru.

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh dua data utama: PDB Indonesia yang dirilis hari ini dan data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan. Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda, rupiah berpeluang menguat.

"Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut," ujarnya pula.

Sumber: manado.antaranews.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua