JAKARTA — Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA meluruskan anggapan keliru yang beredar luas di masyarakat soal obat hipertensi. Menurutnya, pasien yang takut minum obat terus-menerus justru menghadapi risiko kerusakan ginjal yang lebih nyata.
Yoga menyampaikan hal ini usai konferensi pers peringatan "Hari Jantung Sedunia - Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup" di Jakarta, Selasa. Ia menekankan bahwa hipertensi yang dibiarkan tanpa kendali adalah pemicu utama gangguan ginjal.
"Orang Indonesia kalau ketahuan hipertensi itu bilang, 'Saya makan obat terus-terusan nanti sakit ginjal'. Padahal yang terus berhenti minum obatnya atau belang-betong (tidak teratur), dia yang sakit ginjal," kata Prof. Yoga.
Hipertensi Tak Terkontrol, Bukan Obat, yang Merusak Ginjal
Yoga menjelaskan, kekhawatiran terhadap obat hipertensi membuat pasien memilih berhenti atau tidak rutin mengonsumsi obat. Akibatnya tekanan darah tidak terkendali dalam waktu panjang.
Kerusakan ginjal pada kondisi tersebut berkaitan langsung dengan hipertensi yang tidak terkontrol. Bukan karena penggunaan obat untuk mengontrol tekanan darah.
"Yang bikin sakit ginjal, hipertensinya yang tidak terkontrol, bukan karena minum obat yang membuat tensinya jadi terkontrol dan dia jadi tidak sakit ginjal," ujarnya.
32 Persen Penduduk Indonesia Hipertensi, Hanya 4,2 Persen Capai Target Pengobatan
Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai sekitar 32 persen populasi. Namun hanya sekitar 27 persen penderita yang ter